Langsung ke konten utama

Diarium #1

Kemarin tengah malam, ketika 18 
Februari beranjak memasuki Aetas 19. 
Selepas Ashar Senin 19 Februari 2018. 
Ayahmu sedang berbahagia, Nak. Duduk di 
samping jendela pondok pesantren sambil 
menulis ini, suara beberapa santri, anak 
kecil bermain petak umpet di mushola 
seberang terdengar sampai ke dalam 
pondok.
Mungkin ketika kamu besar nanti, 
mereka sudah menjadi Bapak-Bapak 
Komplek yang menyiram halaman rumah 
di sore hari, persis seperti Ayahmu 
lakukan setiap sore kala di rumah Nenek, 
kecuali sore ini.
Dari kemarin Cianjur sedang mencurah 
nikmat, hujan tanpa henti. Tuhan seperti ingin meringankan tanggung jawab
Ayahmu untuk menjaga tanaman di
halaman rumah. Mungkin tuhan lebih tahu
bahwa ada tanggung jawab lebih besar
yang Ia titipkan pada Ayahmu daripada
sekedar paku tanduk rusa, dan bunga-bunga berwarna itu.
10:45 Selasa 20 Februari 2018,
Ayahmu pulang dengan basah air hujan.
Seharian tidak bisa mengaji dengan tenang
karena dapat kabar bahwa Ayahmu ada
panggilan kerja, Nak. Ayahmu bingung.
"Mar, apa resolusi di 2018?"
"Buat belajar, Aku mau hibahkan diri
untuk Pendidikan Agama"
"Yakin kuat?"
"Ya, doakan saja, semoga Istiqomah."
Nak. Ayahmu ingat persis percakapan
itu dengan Kakekmu. Dari banyaknya panggilan kerja yang Ayahmu tidak
datangi, Alhamdulillah Ayahmu masih
Istiqomah untuk tujuan mencari ilmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanda Tanya

Kapan terakhir kali bahagia? Kapan terakhir kali membahagiakan seseorang? Sudah lama? Atau sudah lupa? Mari kita renungkan dengan hati yang lapang. Sebuah harga mahal untuk bisa berdamai dengan luka masa lalu, secara paradoksal penerimaan seseroang terhadap pengalaman negatif justru merupakan sebuah pengalaman positif. Hasrat untuk mengejar semakin banyak pengalaman positif sesungguhnya adalah sebuah pengalaman negatif. Bukan seuatu kebetulan dalam hidup, kala bertemu seseorang yang membawa luka. Dulunya, dalam hidup saya peduli akan banyak hal. Rasa sakit merupakan sebuah angin yang membentuk gulungan ombak kehidupan, dan mendorong air surut menjadi pasang. Berusaha menjauhkan rasa sakit sama halnya berurusan dengan rasa sakit itu sendiri.

AU

 Sadar banget bahwa punya rasa iri terhadap pencapaian orang lain itu sifat yang salah. Hidup memang bukan perlombaan tentang pencapain. Tertinggal tidak berarti kalah. Pelan-pelan bukan berarti tidak akan sampai