Malam hari pukul sembilan, dari lantai paling atas Grand Setiabudi aku menuntut mataku menyelinap diantara angin-angin, menuju barisan acak menyala lampu kota. Tanpa hening larut malam mengiring mataku terjaga, menembus batas ingatan yang tak pernah ingin aku ingat lagi. Bertanya pada malam, adakah aku meminta untuk mengingat semua luka. Kala itu, ingatan kembali bersama deru napas yang menyirat keraguan. Mengabadikan momen malam dengan ponsel jadulku, semoga bisa menyapamu lewat linimasa. Itulah cara satu-satunya aku terlihat olehmu.