Langsung ke konten utama

Visum

Malam hari pukul sembilan, dari lantai paling atas Grand Setiabudi aku menuntut mataku menyelinap diantara angin-angin, menuju barisan acak menyala lampu kota. Tanpa hening larut malam mengiring mataku terjaga, menembus batas ingatan yang tak pernah ingin aku ingat lagi. Bertanya pada malam, adakah aku meminta untuk mengingat semua luka.

Kala itu, ingatan kembali bersama deru napas yang menyirat keraguan.
Mengabadikan momen malam dengan ponsel jadulku, semoga bisa menyapamu lewat linimasa.
Itulah cara satu-satunya aku terlihat olehmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanda Tanya

Kapan terakhir kali bahagia? Kapan terakhir kali membahagiakan seseorang? Sudah lama? Atau sudah lupa? Mari kita renungkan dengan hati yang lapang. Sebuah harga mahal untuk bisa berdamai dengan luka masa lalu, secara paradoksal penerimaan seseroang terhadap pengalaman negatif justru merupakan sebuah pengalaman positif. Hasrat untuk mengejar semakin banyak pengalaman positif sesungguhnya adalah sebuah pengalaman negatif. Bukan seuatu kebetulan dalam hidup, kala bertemu seseorang yang membawa luka. Dulunya, dalam hidup saya peduli akan banyak hal. Rasa sakit merupakan sebuah angin yang membentuk gulungan ombak kehidupan, dan mendorong air surut menjadi pasang. Berusaha menjauhkan rasa sakit sama halnya berurusan dengan rasa sakit itu sendiri.

AU

 Sadar banget bahwa punya rasa iri terhadap pencapaian orang lain itu sifat yang salah. Hidup memang bukan perlombaan tentang pencapain. Tertinggal tidak berarti kalah. Pelan-pelan bukan berarti tidak akan sampai