Dusun Caringin, Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat. Pedalaman Jawa Barat. Seandainya Ia tidak lahir di sini, mungkin aku pun tak akan pernah tahu ada daerah ini.
Aku mengenalnya hanya lewat dua
suku kata yaitu "?" Tanda tanya, adapun
dua buku diary kecil yang sudah usang
dengan sampul peta dunia, tidak lebih dari
24 lembar halaman. Benar, singkat sekali
Ia menuliskan pengalamannya, mungkin
mengisyaratkan aku untuk lebih mengenal
Ia lewat perasaan, kasih sayang layaknya
Anak dengan Ibu, tidak dengan tulisan.
Aku cukup yakin Ia yang lahir dari
keluarga petani mempunyai pengalaman
hidup seperti kebanyakan.
Dengan riwayat pendidikan yang tidak
mewah seperti wanita karir pada
umumnya.
Jalan pendidikannya mungkin
hampir mirip dengan Dr. (H.C.) Susi
Pudjiastuti. Siapa yang mengira
Pedalaman Jawa Barat di tahun 1973,
tepatnya bulan Juni hari ke delapan,
melahirkan seorang perempuan dengan
talenta "pemberi kasih sayang tanpa
pamrih", siapa yang mengira? Genap 16
tahun aku lahir, 16 Tahun pula Ia mampu
mempertahankan gelar tersebut.
Ia pernah bercerita saat usia remaja
pernah bekerja jadi buruh pabrik tekstil di
Bandung.
Ia memang semandiri itu, aku kagum
padanya hingga akhirnya aku memiliki
rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan
kata-kata, aku banyak belajar darinya, Ia
guru pertamaku, Ia segalanya bagiku, Aku
mengenalnya sebagai sesosok IBU.
"Ungkapan yang tidak pernah terucap"
Kepada Ibu-Odah Kamaludin,
perempuan satu-satunya di dunia yang
tulus memberi cinta tanpa pamrih, yang
selalu memberi wejangan kala hati dilanda
perih. Bapak. Kamaludin M. Isya, Kaka.
Lilis Sopiah, dan Adik bungsu, Linda
Permatasari.
Terima kasih untuk selalu menyajikan
hangatnya keluarga penuh rasa sayang,
membuatku selalu rindu akan rumah
terutama saat jauh dan lelah membutuhkan pulang.
hampir mirip dengan Dr. (H.C.) Susi
Pudjiastuti. Siapa yang mengira
Pedalaman Jawa Barat di tahun 1973,
tepatnya bulan Juni hari ke delapan,
melahirkan seorang perempuan dengan
talenta "pemberi kasih sayang tanpa
pamrih", siapa yang mengira? Genap 16
tahun aku lahir, 16 Tahun pula Ia mampu
mempertahankan gelar tersebut.
Ia pernah bercerita saat usia remaja
pernah bekerja jadi buruh pabrik tekstil di
Bandung.
Ia memang semandiri itu, aku kagum
padanya hingga akhirnya aku memiliki
rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan
kata-kata, aku banyak belajar darinya, Ia
guru pertamaku, Ia segalanya bagiku, Aku
mengenalnya sebagai sesosok IBU.
"Ungkapan yang tidak pernah terucap"
Kepada Ibu-Odah Kamaludin,
perempuan satu-satunya di dunia yang
tulus memberi cinta tanpa pamrih, yang
selalu memberi wejangan kala hati dilanda
perih. Bapak. Kamaludin M. Isya, Kaka.
Lilis Sopiah, dan Adik bungsu, Linda
Permatasari.
Terima kasih untuk selalu menyajikan
hangatnya keluarga penuh rasa sayang,
membuatku selalu rindu akan rumah
terutama saat jauh dan lelah membutuhkan pulang.
Komentar