Pernah punya pertanyaan ke mana
arah jalan pulang? Iya, tentu jawabannya
adalah rumah. Tempat yang harusnya
punya rasa aman, nyaman yang di inginkan
semua orang.
Mungkin sebagian makhluk yang
bernyawa pernah mengalami kesalahan
saat menuju jalan pulang. Iya, aku
termasuk salah satunya.
Ini bukan tentang rumah yang
bervisual minimalis ataupun modern, ini
tentang rumah yang berbentuk organ di
dalam tubuh, organ ini tidak termasuk
Panca Indera, tapi organ yang berbentuk menyerupai segitiga ini bisa merasakan emosi begitu pun
arah jalan pulang? Iya, tentu jawabannya
adalah rumah. Tempat yang harusnya
punya rasa aman, nyaman yang di inginkan
semua orang.
Mungkin sebagian makhluk yang
bernyawa pernah mengalami kesalahan
saat menuju jalan pulang. Iya, aku
termasuk salah satunya.
Ini bukan tentang rumah yang
bervisual minimalis ataupun modern, ini
tentang rumah yang berbentuk organ di
dalam tubuh, organ ini tidak termasuk
Panca Indera, tapi organ yang berbentuk menyerupai segitiga ini bisa merasakan emosi begitu pun
perasaan.
Bicara tentang hati memang tidak bisa di anggap biasa, bukan
suatu kebetulan jika sebagian orang punya
arah jalan yang mulus ketika pulang, itu
bukan sesuatu yang kebetulan, itu
memang sudah takdir, pun sebaliknya.
Hati dan perasaan ini punya hubungan
sangat erat dengan waktu.
Aku masih ingat betul kapan terakhir
merasakan perih perihal hati, hancurnya
perasaan kala itu berpengaruh besar saat
menjalani hari-hari. Memang sedrama itu,
tapi memang itu yang dirasakan.
Jawabannya hanya waktu yang tahu
kapan bisa sembuh atas rasa sakit itu.
“Denganmu jatuh cinta, adalah patah
hati paling sengaja”, entah siapa yang
menulis kutipan ini, sedikit relate dengan kejadian yang di rasakan.
Sebuah kesengajaan untuk siap sakit hati kala
mencintai orang yang tidak begitu tepat.
Aku kira cinta pertama bisa seindah
cerita orang-orang di luaran sana, hmm
naif sekali jika sekarang mengiyakan itu.
Seiring berjalannya waktu ternyata
merasakan perihnya perasaan itu bukan
saat perpisahan, melainkan saat
mengingat tentang masa lalu.
Ada denyut sesak saat mendengar kabarnya di
kemudian hari dengan selembar kertas
bertuliskan tanggal sebuah akad. Ia
mengabariku untuk datang berkunjung
pada singgasana yang membuatnya
jadi pusat perhatian.
Aku terdiam, bahwa sesungguhnya
aku tidak terima atas segala bahagiamu,
sejahat itu memang perasaanku kala itu,
ingin sekali aku ditanya apakah aku
pantas punya perasaan tidak ikhlas atas kebahagiaanmu?. Tentu, benar sekali
jawabanku mengiyakan itu.
Aah sudahlah, waktunya susah berlalu.
Aku berharap bisa menemukan orang
yang tepat dilain hari.
Komentar