Langsung ke konten utama

Rumah?

 Pernah punya pertanyaan ke mana 
arah jalan pulang? Iya, tentu jawabannya 
adalah rumah. Tempat yang harusnya
punya rasa aman, nyaman yang di inginkan 
semua orang.
Mungkin sebagian makhluk yang 
bernyawa pernah mengalami kesalahan 
saat menuju jalan pulang. Iya, aku 
termasuk salah satunya. 
Ini bukan tentang rumah yang 
bervisual minimalis ataupun modern, ini 
tentang rumah yang berbentuk organ di 
dalam tubuh, organ ini tidak termasuk 
Panca Indera, tapi organ yang berbentuk menyerupai segitiga ini bisa merasakan emosi begitu pun
perasaan.

Bicara tentang hati memang tidak bisa di anggap biasa, bukan 
suatu kebetulan jika sebagian orang punya 
arah jalan yang mulus ketika pulang, itu 
bukan sesuatu yang kebetulan, itu 
memang sudah takdir, pun sebaliknya.

Hati dan perasaan ini punya hubungan 
sangat erat dengan waktu.
Aku masih ingat betul kapan terakhir 
merasakan perih perihal hati, hancurnya 
perasaan kala itu berpengaruh besar saat 
menjalani hari-hari. Memang sedrama itu, 
tapi memang itu yang dirasakan.
Jawabannya hanya waktu yang tahu
kapan bisa sembuh atas rasa sakit itu.

“Denganmu jatuh cinta, adalah patah 
hati paling sengaja”, entah siapa yang 
menulis kutipan ini, sedikit relate dengan kejadian yang di rasakan.

Sebuah kesengajaan untuk siap sakit hati kala
mencintai orang yang tidak begitu tepat.
Aku kira cinta pertama bisa seindah 
cerita orang-orang di luaran sana, hmm 
naif sekali jika sekarang mengiyakan itu.
Seiring berjalannya waktu ternyata
merasakan perihnya perasaan itu bukan 
saat perpisahan, melainkan saat 
mengingat tentang masa lalu.
Ada denyut sesak saat mendengar kabarnya di 
kemudian hari dengan selembar kertas 
bertuliskan tanggal sebuah akad. Ia 
mengabariku untuk datang berkunjung 
pada singgasana yang membuatnya 
jadi pusat perhatian.

Aku terdiam, bahwa sesungguhnya 
aku tidak terima atas segala bahagiamu, 
sejahat itu memang perasaanku kala itu, 
ingin sekali aku ditanya apakah aku 
pantas punya perasaan tidak ikhlas atas kebahagiaanmu?. Tentu, benar sekali 
jawabanku mengiyakan itu.

Aah sudahlah, waktunya susah berlalu. 
Aku berharap bisa menemukan orang 
yang tepat dilain hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanda Tanya

Kapan terakhir kali bahagia? Kapan terakhir kali membahagiakan seseorang? Sudah lama? Atau sudah lupa? Mari kita renungkan dengan hati yang lapang. Sebuah harga mahal untuk bisa berdamai dengan luka masa lalu, secara paradoksal penerimaan seseroang terhadap pengalaman negatif justru merupakan sebuah pengalaman positif. Hasrat untuk mengejar semakin banyak pengalaman positif sesungguhnya adalah sebuah pengalaman negatif. Bukan seuatu kebetulan dalam hidup, kala bertemu seseorang yang membawa luka. Dulunya, dalam hidup saya peduli akan banyak hal. Rasa sakit merupakan sebuah angin yang membentuk gulungan ombak kehidupan, dan mendorong air surut menjadi pasang. Berusaha menjauhkan rasa sakit sama halnya berurusan dengan rasa sakit itu sendiri.

AU

 Sadar banget bahwa punya rasa iri terhadap pencapaian orang lain itu sifat yang salah. Hidup memang bukan perlombaan tentang pencapain. Tertinggal tidak berarti kalah. Pelan-pelan bukan berarti tidak akan sampai