Panas, Macet, Debu, Itulah pandangan
pertamaku tentang Karawang, kota di
mana pertama kali aku bekerja. Tidak
pernah terbesit sebelumnya akan menetap
di kota ini.
Tidak adil rasanya jika hanya
melihat sesuatu dari sisi buruknya, dibalik
sisi gelap tentu ada sisi terang, selain
dikenal dengan Kota Lumbung Padi,
dikenal juga dengan Kota Industri.
Persawahan di sepanjang jalan, Pohon
kelapa yang berayun mengikuti angin dan
samar asap dari kawasan industri.
Keadaan pagi hari yang begitu campur
aduk, ketika roda-roda kendaraan
melintas jalan daerah Sirnabaya.
Masih ada layang-layang sepanjang
sore yang mengudara di langit Karawang.
Meliuk indah mengikuti arahan angin.
Seutas benang yang menjadi kemudinya
seperti setir mobil yang mengarahkan dua
roda. Seakan ia lupa, lama tidaknya ia di
atas bergantung pada benang tersebut.
Musim itu memang angin sedang bagus-bagusnya untuk bermain layang-layang.
Saat itu aku masih di beranda Kos
kostan Ade, berkumpul bareng kawan
kerja. Menikmati se toples kue, telur asin
bakar oleh-oleh Brebes yang dibawa Adi,
ada Ilham dengan khas sale pisangnya dari
Ciamis, pun ada Dandi yang khas Lampung
dengan cerita begalnya.
Hangatnya obrolan kala itu
melayangkan ingatanku semasa kecil
ketika bermain layang-layang. Waktu itu
harga sebuah layang-layang masih Rp. 500,- cukup mampu dijangkau oleh uang
jajanku, tapi entah mengapa itu tidak
membuat aku berhenti berlari mengejar
layangan putus. Dengan Rp. 500,- mungkin
aku bisa mendapatkan layang-layang yang
masih baru, tapi aku kehilangan canda
tawa bersama teman-teman ketika
mengejar layangan putus.
Ini bukan sekedar berlari, tapi
bagaimana membaca arah angin,
mengambil keputusan secara cepat juga
jalan pintas, dan yang terpenting adalah
koleksi layangan putus di dapur kecilku.
Itu kebanggaan. Dan tentunya, kenangan.
Komentar
Posting Komentar